Septie's Pages

Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Monday, February 27, 2017

Review Buku: Tuhan Dalam Secangkir Kopi

Gak sabar ngereview buku karya bang Denny Siregar ini.
Dapatnya buku ini saya memesan disalah satu toko buku online, berhubung ada tulisannya gede "dapet tanda tangan penulis" gimana gak langsung dech saya masukkan keranjang belanja tanpa mikir 10 kali. Saya pesen buku ini bersama buku "Jokowi si Tukang Kayu". Untuk buku "Jokowi si tukang kayu" belum sempat saya baca karena bukunya baru datang kemaren baru sempat hari ini baca buku Bang Denny dan langsung review. Woke langsung saya review ya.
Judul buku: Tuhan dalam Secangkir Kopi
Penulis: Denny Siregar
Penerbit: Noura Books
Cetakan: 1 Mei 2016
Jumlah Halaman: 199

Belum tau Denny Siregar? Pria ini bernama lengkap Denny Zulfikar Siregar. Banyak yang mengenalnya di Media sosial. Bang Denny ini banyak belajar menulis dari radio, salah satunya Radio Suara Surabaya. Tulisan-tulisannys tentang agama dan politik Indonesia banyak disadur oleh situs media. Banyak yang menjuluki Bang Denny ini penggiat dunia maya. Tulisannya yang kala itu sangat fenomenal adalah "Surat Cinta untuk ISIS" yang ditulisnya pasca bom Jakarta. Karakter tulisan Bang Denny ini selalu melibatkan kopi, karena Bang Denny sangat begitu terinspirasi dengan kopi yang tidak pernah menyembunyikan kepahitannya. Githu...
Balik ke buku ini lagi yah. Buku ini banyak menuliskan tentang Ketuhanan. Meskipun buku ini berlatar belakangkan agama Islam karena Bang Denny ini muslim, tapi buku ini sangat oke untuk di baca bahkan untuk bukan hanya orang muslim saja.
Seperti biasa ke khas an dari tuisan Bang Denny ini tulisan-tulisannya lumayan ringan jadi kita bisa baca sambil tiduran, makan, dan mandi boleh juga. Karena ini bukan bentuk tulisan novel ya, jadi dibuku ini terdiri dari 70 bab, jadi satu babnya paling banyak tiga lembar.
Banyak hal yang saya dapat dari cerita ngopi bareng Bang Denny ini.Bang Denny yang saya terawang (udah kek paranormal aja) dari tulisannya merupakan orang yang sudah pernah mengalami kesukaran dan kesedihan dalam hidupnya, sudah pernah mengejar uang atau harta, sehingga dia merasa uang dan harta bukan merupakan sumber dari kebahagiaan itu sendiri.
Bang Denny merupakan salah satu pengagum NU, sama seperti saya juga, saya menyukai beberapa dakwah-dakwah Emha Ainun Najib dan beberapa buku sastra tulisannya. Bang Denny Dibuku ini menuliskan kekagumaannya dengan jelas.

Ketika perama kali NU mengeluarkan konsep Islam Nusantara sebagai antitesis dari Islam ala Saudi, jujur, saya terpesona.
Emha membawakannya dengan gaya kampungan, bukan gaya padang pasir. Gus Mus menceritakannya dengan gaya tutur, buan gaya menghardik. Quraish Shihab menggiringnya dengan gaya filsuf, bukan gaya menuding. Mereka menyeret kembali gaya bercerita dengan model walisanga. Dimana Islam diterima dengan cinta dan terhormat. Amanah bukan amarah. Menyejukkan bukan menakutkan.

Saya melihat mereka "wow" merupakan orang-orang yang mau terus belajar. Selalu merendahkan diri mereka agar tidak terlihat tinggi. Mungkin saya perlu mengangkat kopi untuk mereka ini.
Eitttt.... tapi saya bukan Bang Denny yang menandakan tulisan saya selesai dengan memberi penghormatan dengan secangkir kopi. Masih ada sisi lain dibuku ini yang belum selesai saya bagikan.
Beberapa tulisan cantik dan ringannya

Kita menafsirkan kebahagiaan berdasarkan nafsu kita, sehingga kita tertutup dari apa yang dibutuhkan jiwa kita. Kita begitu sombongnya merasa bahwa rencana kita sempurna, tapi Tuhan-Karena sayang-Nya-menggagalkan semua apa yang kita rencanakan. Senyumlah, mungkin Tuhan hanya ingin "minum kopi" dengan kita.
Coba berdoa dulu sebelum berusaha. Minta kepada Tuhan untuk memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan dengan kepasrahan total, karena engkau tidak mengert apakah yang akan kau lakukan nanti benar ataukah salah.
Manusia itu kadang-kadang suka memperlakukan Tuhan seperti pembantu yang bisa disuruh-suruh. Manusia yang berencana, Tuhan yang kerepotan.
Berteman dengan orang toleran itu menyenangkan. Mereka tidak peduli apakah mereka sesendok kopi atau dua sendok gula. Buat mereka, kenikmatan itu ketika semua seimbang.

Bukan hanya pemuja tokoh Nu, Bang Denny juga merupakan pemuja Ahok. Ada salah satu bukunya yang pernah saya review di bulan lalu yang berjudul "Semua Melawan Ahok". Dibuku ini Bang Denny juga menulis tentang Ahok.

Ahok mampu memaknai amanah di saat banyak pejabat melihatnya sebagai peluang. Ahok mampu memaknai hukum Islam, disaat banyak orang melihatnya sebagai kafir
Mungkin, jika Ahok adalah seorang dokter, seoramg pengacara, atau seorang ulama bersorban, dia akan melihat nikmat yang diberikan kepadanya sebagai bagian dari jalan menuju surganya, daripada kubangan kemewahan materi di dunia.

Dari tulisan Bang Denny ini saya melihat bang Denny orang yang mau belajar dan membuka diri. Wow Pria berusia 43 tahun ini saja masih ingin belajar. Lah gue?? Apa kabar??
Ahhh sepertinya saya perlu berguru dari Bang Denny dan Pak Ahok
Jadi mimpi ngopi cantik bareng mereka.
Mimpi lo!
Ahh Thomas Alfa Edison juga mimpi dengan keras kepalanya untuk menemukan sebuah lampu.

Monday, November 21, 2016

Review Buku: Life as a Vapor

Judul Asli Buku: Life as a Vapor
Judul Terjemahan: Hidup adalah Uap
Penulis: John Piper
Penerbit Pertama: Multnomah Books, a devision of Random House, Inc.
Penerbit Indonesia: Pionir Jaya
Penerjemah: Grace P. Christian
Cetakan ke : 1, Februari 2008
Jumlah Halaman: 151
Daftar Isi:
Sepatah Kata untuk Pembaca
1. Pentingkah Penilaian Orang Lain
2. Penderitaan, Belas Kasihan, dan Penyesalan Surgawi
3. Mata adalah Pelita Tubuh
4. Hidup Saya adalah Uap
5. Warna Favorit Allah
6. Padamkan Kemarahan Sebelum Kemarahan Memadamkan Anda atau Pernikahan Anda
7. "Tuhan, Perintahkanlah Apa yang Kau Kehendaki, dan Berikanlah apa yang Kau Perintahkan
8. Kesudahan Adalah untuk mengucap syukur, Permulaan Adalah untuk Iman
9. Bermegah di Dalam Manusia Sungguh-sungguh Dilarang
10. Yang akan Kita Peroleh Sepenuhnya Adalah Belas Kasihan
11. Sebuah Panggilan untuk Orang-orang Kristen Koroner
12. Allah Tidaklah Membosankan
13. Ucapan Syukur untuk Kehidupan dari Orang-orang Kudus yang Tidak Sempurna
14. Mengapa Iblis Dibiarkan Ada di Bumi
15. Jalan Hikmat Mungkin Bukanlah Jalan yang Paling Berbuah untuk Kemuliaan Allah
16. Badai Menyatakan Kemenangan Karyanya
17. Nilai dari Pelajaran Sejarah
18. Sudah: Merdeka secara Mutlak dan Secara Permanen, Belum: Merdeka secara Final dan Secara Sempurna
19. Jika Anda Ingin Mengasihi, Anda Harus Mati Terhadap Hukum Taurat
20. Bagaimana Teisme Terbuka Membantu Kita Menyembunyikan Penyembahan Berhala Kita yang Tersembunyi
21. Cara untuk Bertanya kepada Allah
22. Mengapa Saya Tidak Mengatakan, "Allah tidak Menyebabkan Malapetaka itu, Tetapi Ia Dapat Menggunakannya untuk Kebaikan."
23. Janji-janji yang Memberi Pengharapan untuk Menang atas dosa
24. Jonathan Edwards Membahas Cara Berpikir Peziarah
25. Ditabur dalam Kehinaan, Dibangkitkan dalam Kemuliaan
26. Buah yang Dahsyat dari Penguasaan-Dini
27. Renungan-renungan tentang Pikiran-pikiran Allah
28. Apakah Tuntutan Allah untuk Disembah itu Sia-sia?
29. Menyingkirkan Keangkuhan dari Pengaruh Budaya Kristen
30. Perintah-perintah Allah yang Manis kepada Roh-roh Jahat, Angin, Burung-burung Gagak, dan Kasih
31. Kristus Menderita dan Mati untuk Melepaskan Kita dari Masa Sekarang yang Jahat Ini
__________________________________________________________________________________________
Buku ini saya beli awalnya, ketika saya merenungkan "hidup itu seperti uap" dimana saat itu saya terinspirasi dari lagunya bapak Casting Crown yang judulnya "Who am I" yang lirik refrainya seperti ini:


I'm a Flower quickly fading
Here today and gone tomorrow
A wave tossed in the ocean
A vapor in the wind
Still you
Here me when i'm calling
Lord You catch me when i'm falling
Lord You Told me Who i'm
I'm Yours


Naaaaah, dari lagu itu saya jadi menyukai istilah live as a vapor, kemudian ketika saya melihat buku ini ada di rak buku salah satu toko buku. Langsung saya grab it fast!!!
Buku ini adalah buku bahan perenungan, selama satu bulan. Tadinya saya pikir merupakan suatu cerita berkelanjutan. Ternyata, buku ini seperti buku perenungan hari yang harus di baca bab perbab setiap harinya.
Penulis buku ini adalah John Piper yang merupakan pendeta pengkhotbah di Bethlehem Baptist Church di Minneapolis, adalah penulis dari Desiring God, The Dangerous Duty of Delight, Future Grace dan beberapa buku lainnya.
Buku karangan John Piper ini cukup bagus untuk perenungan setiap hari. Seperti contoh di hari pertama: John Piper membagikan tentang penilaian orang lain penting atau tidak? Disini Piper menjelaskan perbedaan antara dua bagian kitab. Dimana Galatia 1:10 dikatakan bahwa Paulus saat itu sedang mencari persetujuan Allah dan bukan manusia, jika ia masih mencari persetujuan Allah maka ia tidak akan menjadi hamba Kristus. Jadi sepertinya orang Kristen tidak boleh mendengarkan apa kata orang lain.
Namun disisi lain, di Amsal 23:1 dikatakan bahwa nama baik lebih berharga daripada perak atau emas dan dikasihi orang lebih baik daripada perak. Yang sepertinya reputasi itu sangat penting.
John Piper menjelaskan di buku ini, seharusnyanyang menjadi pusat kita adalah Dia semakin di besarkan dalam diri kita dan kita semakin kecil, yang menjadi pusat kita adalah reputasi Kristus dan bukan kepentingan atau nama baik pribadi kita. Sehingga apa yang menjadi perkataan orang itu menjadi sangat-sangat penting agar Kristus itu semakin ditinggikan dalam kehidupan kita.
Di akhir masing-masing Bab ada doa yang dituliskan oleh Piper sendiri, yang bunyinya di bab pertama:

Bapa, terkadang jalan Kristus itu rumit bagi pikiran-pikiran kami yang dinodai dosa dan terbatas. Ampuni kami  saat-saat ketika kami telah membenarkan kesis-siaan kami dengan dalih reputasi yang baik. Ya, Tuhan, Karuniakanlah kepada kami, dalam hidup yang singkat ini, hikmat dan keberanian untuk menyenangkan orang lain, atau untuk tidak menyenangkan orang lain, hanya demi Kristus, dan bukan diri kami sendiri di puji. Dalam nama Yesus. Amin.

Monday, November 7, 2016

Review Buku: Shadow of the Almighty

 Judul buku: Shadow of the Almighty
Jumlah halaman: 256
Terbitan pertama: Tahun 1979
Penerbit: Harpercolin
Penulis: Elisabeth Elliot
Daftar isi:
Acknowledgement
Preface
Prologue
Part 1 Portland, Oregon, 1927-1945
1. Strong Roots
2. Orator and Garbage Collector
Part II Wheaton, Illinois, 1945-1949
3. Degree of A.U.G.
4. Straight for the Goal
5. Flame of FIre
6. Behold Obscurity
7. Wine of Bewilderment
8. Sheep- Destined for the altar
9. Goaded by God
10. The Renaissance
Part III Portland-Oklahoma-Wisconsin-Indiana-Illinois-Portland,1949-1952
11. The Test of Free Time
12. The Test of Service
13. Impelled vs These Voices
14. The Parttern Tested
15. Hemmed in to Nothing
16. Exactly Timed for Good
17. The Hand Is on the Plough
Part Ecuador, 1952-1956
18. Under Way
19. Dreams Are Tawdry
20. The Realized Will
21. Lo, This is Our God
23. The Pattern at Work
24. Mission Accomplished
Epilogue
Sourcese
_________________________________________________________________________________________

Haillooo, akhirnya saya dapat menyelesaikan review saya ini. Fiuuuuuuuh..... kali ini saya menulis di kampung halaman saya wonosobo, my beautiful village, guys. hahahaha, penting gak ya? Sok penting ajalah yaaaa. Ok, alasan pertama, why I buy this book? Karena penulisnya. Penulisnya sangat menginspirasi saya. Iyappp betul, Mrs. Elisabeth Elliot, Tapi buku yang kali ini beraaaaaat bingiiit, luar biasa.. kenapa? Pertama karena buku ini bahasanya Inggris British banget, karena di tulis di tahun 1979. Kedua karena saya tak suka buku-buku biografi. di banding buku-buku yang lain versi inggrisnya Elisabeth Elliot versi yang ini yang rada berat (menurut saya).
Ok! Buku ini selesai ditulis tahun 1958, Dua tahun setelah kematian Jim Elliot pada 8 Januari 1956. Hmmmm, Dia meninggal di tangan orang yang dia doakan selama enam tahun (*ngeri yaaah) tapi saya jadi memikirkan saat itu Elisabeth Elliot dalam kesedihannya mengingat sang suami yang amat di kasihinya. Elisabeth memilih untuk mencurahkan kesedihan hatinya dalam tulisan-tulisannya. Elisabeth mengumpulkan foto-foto dari jim dan menjadikannya sebuah kisah. Dari sinilah bukunya di mulai. Dari rasa kehilangannya yang terdalam.
Buku ini secara khusus dituliskan untuk anaknya Valeri yang masih kecil ketika ayahnya meninggal. Elisabeth ingin agar anaknya pun mengerti bagaimana sosok ayahnya sekalipun saat itu sang ayah sudah tiada.
Di awal buku itu dituliskan
Aku pikir dengan menuliskan tentang ayahmu, yang tidak kamu kami ingat, yang mungkin suatu saat akan menolongmu untuk mengenalnya ketika terkadang deskripsiku tidak dapat menjelaskan. Dan aku berdoa seperti kau mengenalnya, kamu akan belajar mencintai apa Sesuatu yang di cintainya, dan mengikuti imannya.
Dibuku ini juga banyak di tunjukan dengan foto-foto kenangan mereka. Dari foto keluarga inti dari Jim ElliotElliot, dan foto Jim Elliot dari masa kemasa dari Jim Elliot masih kecil sampai Jim Elliot menikah dengan Elisabeth Ellio, hingga Jim berada bersama suku indian. 
Banyak hal diceritakan tentang Jim Elliot, sejak dari kecil hingga misinya dan tujuan hidupnya terpenuhi. Jim lahir ditengah-tengah keluarga yang takut akan Allah. Dari kecil Jim sudah terbiasa akan disiplin dan kejujuran yang ditanamkan ditengah keluarganya. Ada satu kalimat yang saya sukai adalah ketika orang tua Jim mengajarkan tentang kejujuran dan berkata "jangan pernah berpikir jika kalian akan mendapatkan sesuatu karena kami tidak tau apa yang akan dilakukan" ibunya berkata " Tuhan tau, dan Ia akan memberikan ganjaran dengan caranya". Dari silsilah keluarganya kita dapat melihat Jim adalah keturunan yang takut akan Allah.
Sedari kecil Jim Elliot terbiasa dengan bekerja keras. Banyaknya tanaman dan peternakan yang dimilikinya merupakan bukti bahwa keluarga mereka sangat menyukai pekerjaan tangan. Jim menggembalakan beberapa ekor domba sedari dia anak-anak. Dia mengenal Allah senjak kecil dari orang tuanya. Ketika dia berusia 6 tahunan dia berkata kepada ibunya pada suatu malam ketika perjalanan pulang dari sebuah rapat katanya "Sekarang, mama, Tuhan Yesus dapat datang kapanpun Ia mau untuk datang. DIA dapat membawa seluruh anggota keluarga kita, karena sekarang saya sudah diselamatkan , dan Janie juga masih sangat muda untuk mengenal Dia"
Hidup Jim sangat dipengaruhi oleh tujuannya menjadi seorang misionaris. Ketika dimasa kuliahnya pun apa yang dikerjakannya membawanya kepada tujuannya. Sehingga setiap aspek hidupnya dilakukan untuk tujuannya. Dalam kehidupan sehari-harinya ia mendisiplin dirinya dengan jam-jam doanya. Ada satu surat yang dituliskan Jim untuk adiknya Janie, bunyinya:
"Mulailah tiap hari dengan membaca Firman dan doa, Bunyan pernah berkata dengan sangat baik, 'dosa akan menyimpanmu dari Kitab ini, atau Kitab ini yang akan menyimpanmu dari dosa". Pertama kali sebelum engkau memulai sekolahmu berikan waktumu. Buatlah suatu komitmen yang keras, ini lebih mudah daripada memulai dengan melewati hari ini tanpa-Nya. Hafalkan ayat-ayat firman ketika berada di perjalanan. Bayarlha dengan waktumu! Ini harus dibayar karena ini sangat berharga!"
Jim sendiri memiliki alarm setiap malam untuk bangun dan membangunkannya untuk berdoa dan mempelajari firman. "Tidak ada satupun 'barang lama'." Dia menulis "Dengan Kristus yang tertulis dan menghidupi setiap firmannya. Kita tidak pernah berpikir bangun dipagi hari tanpa mencuci wajah kita, namun kita sering melupakan untuk mencuci pikiran negatif kita dengan perkataan Kristus. Ini kembali kepada tanggung jawab masing-masing kita."
Jim memulai kuliahnya di Wheaton. Dan Ia sangat yakin bahwa Allah mengirimnya ketempat itu. Ini tidak dengan mudah Ia berkuliah disitu seperti ayahnya yang mengirimnya. "Tak ada seorangpun yang menafkahinya" kenyataannya, dia sendiri tidak tau darimana ia mendapatkan uang. Tuhan menghargai keyakinannya, dan Tuhna memberkatinya lewat teman-temannya, beasiswa, dan pekerjaan sampingannya, sehingga ketika di bulan November, dia menuliskan:
"Pengalaman sekolah kita adalah salah satu dimana kita dapat benar-benar merayakan segala sesuatu pemberian dari kasih kebaikanNya yang selalu dan selamanya. Bagi Dia segala kemuliaan dan ucapan syukur.
Bukan hanya itu saja, apapum yang di makan oleh Jim itu membawanya kepada tujuannya menjadi seorang misionaris. Makanan yang dipilihnya dengan hati-hati adalah buah dan sayuran segar, beberapa jenis gandum, beberapa makanan penutup. Dia makan dengan teratur, namun dengan jumlah yang sama. Dia mematuhi aturan untuk menjadi misionaris dimasa depannya.
Masih banyak lagi tentang seorang Jim Elliot dibuku ini yang belum dapat saya tuliskan. Tapi, suer! Bukunya sangat bagus dan mengispirasi sekali. Bagi saya khususnya. Saya sudahi dulu tulisan saya. Trimakasih sudah membaca.

Sunday, October 2, 2016

Review Buku: Having Mary Heart in Martha World

Judul buku: Having a Mary Heart in a Martha World (Memiliki Hati Seorang Maria di Dunia martha)
Penulis: Joanna Weaver
Penerbit pertama: Waterbook Press, ,Colorado springs, USA
Penerjemah: Ellen Hanafi
Penerbit Indonesia: Prionir Jaya
Cetakan: ke-1, Maret 2009

Ucapan Terima kasih
Pendahuluan
Bab Satu Kisah Dua Perempuan Bersaudara
Bab Dua              "Tuhan, Tidakkah Engkau Peduli?"
Bab Tiga             Diagnosis
Bab Empat Pemulihan
Bab Lima Keintiman di Ruang Tamu Rohani
Bab Enam Di Dapur Pelayanan
Bab Tujuh Bagian yang Terbaik
Bab Delapan Pelajaran dari Lazarus
Bab Sembilan     Hati Martha yang mau di ajar
Bab Sepuluh       Kasih Maria yang Luar Biasa
Bab Sebelas Menjaga Keseimbangan Antara Bekerja dan Beribadah
Bab Dua Belas   Memiliki Hati seorang Maria di Dunia Martha

Sumber-sumber acuan
Lampiran A Pedoman Pelajaran
Lampiran B Sumber-sumber Acuan untuk Keintiman di Ruang Tamu Rohani
Lampiran C Sumber-sumber Acuan untuk Dapur Pelayanan
Lampiran D Jurnal Perjalanan
Lampiran E Rancangan Sederhana untuk Doa Setengah Hari
Lampiran F Hak Orang Kristen di Tempat Kerja

Tentang Penulis: 
Joanna Weafer adalah seorang penulis, istri dari seorang hamba Tuhan dan ibu dari dua orang anak. Artikel-artikel yang ditulisnya telah muncul di barbagai-bagai media penerbitan seperti Focus on the Family, Guidepost, dan Homelife. Ia juga pernah meraih penghargaan saat menulis buku tentang pernikahan With Thisthe Ring. Joanna hidup dengan kelurganya di Pasific Northwest.
______________________________________________________________________________________

Buku ini saya beli di Jogjakarta tanggal 5 April 2010. Karena letak toko buku yang deket banget sama kost waktu dulu jadi sering nangkring dech di toko buku. Waktu melihat buku ini, agak ekstrim juga dari judulnya. Karena saat itu saya memang sedang belajar membagi waktu saya dan agar saya juga dapat menikmati waktu-waktu saya bersama Allah saat itu. Tugas kuliah saya yang bejibun cukup menguras waktu-waktu saya saat itu. Hingga akhirnya saya bertemu buku ini, dan sangat menolong sekali :D
Buku ini menceritakan tentang pentingnya keseimbangan hidup. Bayangkan jika Allah saja menaruh dirinya satu hari selama satu minggu untuk beristirahat, begitu pula kita. Itulah yang di maksudkan segala sesuatu ada waktunya.
Buku ini mengambil satu ilustrasi yang selalu digunakan sepanjang buku ini yaitu, dua wanita yang bersaudara mereka adalah Maria dan Marta. Dibuku ini menceritakan bagaimana Marta yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tidak memiliki waktu untuk duduk di bawah kaki Yesus. Hati Marta iri kepada Maria yang hanya duduk dan tidak mengerjakan apapun. Martha marah dan melakukan protes kepad Yesus, namun apa yang menjadi jawaban Yesus? mungkin versi bahasa sehari-hari seperti ini Lukas 10:41-42 "Marta sepertinya kamu terlalu kuatir akan banyak hal dech, tapi Maria memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan hilang darinya." 
Buku ini menggambarkan bagaimana kehidupan wanita saat ini yang begitu banyak aktifitas yang di kerjakannya, sehingga melupakan bagian yang terpenting darinya yang tidak dapat diambil. Satu ilustrasi yang masih saya ingat saat ini ialah waktu itu seperti ember, kemudian aktifitas kita itu seperti batu, kerikil, pasir dan air. Jika kita ingin memasukkan segala sesuatunya ke dalam suatu ember, kita harus memasukkan batu yang besar terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru kerikil dan setelah itu pasir, setelah itu baru air, kita tidak dapat memasukkan air atau pasir terlebih dahulu kemudian baru batu besar. Kenapa? Karena ember itu akan terlebih dahulu penuh sebelum kita dapat memasukkan batu besar. Demikian waktu kita yang sangat berharga dan tidak akan pernah kembali lagi. Kita harus menetapkan prioritas kita untuk setiap kegiatan yang harus kita ikuti, agar kita tetap menikmati Allah dalam setiap hal yang kita kerjakan.
Jika di awal buku kita melihat hati Marta yang hobi protes, di akhir buku kita dapat melihat bagaimana marta di ubahkan Allah, dan bukan hanya Marta saja namun maria pun turut berubah, maria bukan hanya mendengar dengan pasif namun maria juga turut memberikan bagian yang terbaik dari dirinya. Marta pun turut melakukannya, jika dulu Marta melakukan segala sesuatu sambil bersungut-sungut, Marta kali ini melakukan pekerjannya dengan sukacita, sambil tertawa, bernyanyi dan memuji Allah.
Yesus yang menjadi teladan diantara keduanya.
Yesus mencerminkan teladan paling indah yang pernah ada di muka bumi ini. Suatu ketika para ahli taurat menanyakan perihal "bagaimana caranya untuk memperoleh hidup yang kekal?" karena Yesus mengerti bahwa pertanyaan yang mereka lontarkan hanya untuk berdebat, Yesus justru menanyakan balik pertanyaan mereka "apa yang tertulis dalam hukum taurat?" Mereka pun menjawab "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap kekuatanmu, segenap akal budimu, dan hukum yang kedua ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."  Yesus pun menjawab "itu benar, perbuatlah demikian maka engkau akan hidup". Di sinilah letak keseimbangan kita berasal, kita harus mengasihi Allah dan sesama. Kita tidak dapat melakukan yang satu dan melupakan yang lain. Kita harus menjaga keseimbangan kita antara bekerja dan beribadah.
Buku ini cocok sekali untuk wanita yang sedang belajar menjaga keseimbangan. Wanita Allah diciptakan Allah untuk kesenangan Allah dan cakap menanggung segala sesuatu.


 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 
Filipi 4:13


Sunday, September 11, 2016

Review Buku: Tuhan Mengasihi Orang-Orang yang Hancur Hati

Hari ini tepat satu hari setelah hari kelahiran saya. Pagi ini terasa lain seperti biasanya, yang biasanya saya sudah dengan tangkas bersiap-siap pergi bekerja dan mengerjakan banyak hal. Namun pagi ini saya menikmati pergerakan saya yang lambat di karenakan saya terjatuh dan kaki saya terluka dan sedikit bengkak. Terkadang saya marah juga jika saya tidak bisa melakukan banyak hal dan ketika berada di greja saya tidak dapat membantu banyak hal. Namun, Saya sangat menikmati pagi ini, waktu untuk beristirahat yang Allah sediakan. Beginilah cara Allah membuat saya benar-benar beristirahat. Namun, Allah tidak hanya saja menyediakan waktu, Allah menyediakan piano yang dapat saya mainkan pagi ini, setelah lelah berlatih piano, dengan langkah kaki saya yang terseok-seok saya menuju dapur dan membuat secangkir kopi. Kemudian menarik diri saya keatas ranjang dan kembali membaca dan menulis. Di temani sebuah buku:

Judul Asli: God Loves Broken People
Judul: Tuhan mengasihi orang-orang yang hancur hati
Penulis: Sheila Walsh
Penerbit pertama: Thomas Nelson, Nashville, Tennessee
Penerbit Indonesia: Light Publishing
Tahun terbit: November 2012
Penerjemah: Marlina Nadeak
Jumlah Halaman: 241

Daftar Isi:
Pendahuluan: Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik
Satu: Saya sedang tidak melambai: saya sedang tenggelam: ketika air yang dalam bertemu dengan kasih yang bahkan lebih dalam
Dua: Domba-domba yang terbuang dan kambing-kambing hitam: Seorang gembala yang mengejar para korban maupun penjahat
Tiga: Luka-luka lama memiliki ingatan yang baik: menemukan sebuah cara keluar dari kegelapan
Empat: Pertanyaan-pertanyaan yang memburu: hadirat dan damai sejahtera-Nya di malam-malam tergelap dan peperangan terpanjang anda
Lima: Bersembunyi, Berpura-pura dan pelarian-pelarian lainnya yang gagal: menghindari sebuah strategi lama yang tidak pernah berhasil
Enam: Apa yang bisa saya tau dengan pasti? Tiga kebenaran yang kuat untuk menjaga anda tetap berdiri, apapun yang terjadi
Tujuh: Sebuah kisah tentang dua teresa: Hikmat yang teruji oleh waktu untuk menangani rasa sakit yang terus menerus
Delapan: Kasih yang dasyat dan kasih karunia Halloween: Mengapa komitmen Allah yang garang kepada anda datang dengan kejutan-kejutan.
Sembilan: Tidak ada apapun untuk di lindungi, tidak kehilangan suatu apapun: Tiga pilihan ketika penderitaan memindahkan anda dari balkon panggung.
Sepuluh: Dipanggil kepada sesuatu yang lebih besar: Mengijinkan Allah untuk memakai penderitaan anda bagi tujuan surga yang mencengangkan
Sebelas: Hanya yang terluka yang bisa melayani: Bagaimana jika luka-luka anda membuat anda cocok untuk pelayanannya?
Dua belas: Rasa sakit yang kudus: Cara Allah mengubah luka anda menjadi sesuatu yang kudus
Tiga belas: Kristus yang hancur: Juruslamat yang memilih menderita... untuk anda
Penutup: Merindukan eden

Bagian yang saya nikmati adalah ketika Sheila Walsh membagikan tentang rasa malu. Rasa malu adalah rasa yang sangat wajar. Pada awalnya rasa malu itu tidak ada di bumi ini, hingga manusia pertama yaitu adam dan hawa jatuh kedalam dosa. Saat itulah rasa malu itu berasal dan membuat orang-orang yang melakukan sebuah dosa merasa malu.
Sayapun menjadi diingatkan ketika ketika saya kuliah dan saya diperkenalkan dengan kebenaran Allah dan apa yang benar dan yang harus saya kerjakan saat itu. Hingga di satu titik saya membuat kesalahan. Saya melakukan hubungan yang salah, dan saya tidak mendoakam hubungan saya terlebih dahulu, justru saya mengikuti keegoisan saya dan ketika hubungan itu berakhir saya diliputi rasa malu. Dan ya rasa malu itu memang ditimbulkan karena dosa yang kita perbuat.
Di buku ini Sheila Walsh memberikan saran praktis agar kita dapat menang dalam pertempuran kita melawan masa lalu tersebut:
1. Berbicara pada diri sendiri adalah hal yang normal. Hanya pastikan anda mengatakan hal-hal yang benar. Seperti mazmur Daud berkata "Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, berharaplah pada Allah"
2. Penuhi pikiran anda dengan kebenaran Firman Allah. Usahakan agar perlengkapan senjata kita harus memadai dan cukup untuk kita berperang. Pertama kita harus mengingat siapa Dia dan apa arti Dia bagi anda dan kedua anda harus mengingat siapa anda dan apa arti anda bagi Dia.
3. Buatlah diri anda disekeliling orang-orang saleh yang mengingatkan anda kepada kebenaran.
Sheila Walsh membagikan juga dengan kehidupannya yang dulu dihantui ketakutan, dia bersyukur ada suaminya yang takut akan Allah dan memanjatkan doa yang dikutipnya dari buku Richard Foster, Prayer:
Oleh otoritas Allah mahakuasa, saya meruntuhkan benteng-benteng setan dalam hidup saya, dalam kehidupan orang-orang yang saya kasihi dan dalam masyarakat di mana saya tinggal. Saya mengambil bagi diri saya senjata kebenaran, keslamatan, firman Tuhan dan doa. Saya memerintahkan setiap pengarih jahat untuk pergi; kau tidak memiliki hak disini dan saya tidak mengizinkan titik masuk apapun untukmu. Saya meminta iman, kasih dan pengharapan yang semakin bertambah supaya, oleh kuasa Allah, saya bisa menjadi terang diatas bukit, membyat kebenaran dan keadilan bertambah subur. Hal-hal ini saya doakan demi Dia yang mengasihi saya dan memberikan diri-Nya untuk saya. Amin.
Meskipun luka-luka lama memiliki ingatan yang baik, tidak ada mimpi buruk yang dapat menandingi kasih Juruselamat kita yang menyelamatkan. Rasa malu memberitahu kita bahwa kehancuran kita untuk selama-lamanya. Salib Yesus memberitahu kita bahwa ia telah menanggung kehancuran kita selamanya pada diriNya sendiri supaya kita bisa hiduo, selamanya dalam kemerdekaan.
Mengapa? Mengapa dan Mengapa? Itu adalah serentetan pertanyaan yang sering ditanyakan seseorang ketika hal buruk terjadi. Di kayu salib, Yesus mengucapkan pertanyaan yang telah ditanyakan oleh begitu banyak dari kita tentang Allah dimalam-malam tergelap kita:"mengapa Engkau meninggalkanku?" Pertanyaan itu tergantung di udara, terhenti, seolah-olah tertahan disana oleh penderitaan mendalam yang murni dan tak terpahami. Namun, itu bukanlah hal terakhir yang diucapkan Allah kita. "Sudah selesai!" Ia berseru beberapa saat kemudian. Lalu, pada akhirnya, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku". Dari ditinggalkan menjadi di rangkul!
Tiga kebenaran yang dapat selalu kita pegang:
*Tidak ada apapun yang terjadi yang mengejutkan Allah, jadi percayalah kepada Dia ditengah-tengah penderitaan anda
*Allah mengasihi anda, dan tidak ada apapun yang dapat memisahkan anda dari kasihNya
*Allah akan selalu menyertai anda, dan apapun yang harus anda hadapi, Ia akan melewatinya bersama anda.
Dibagikan di buku ini mengenai dua teresa. Ibu teresa yang kita kenal memiliki nama asli Agnes Bojaxhiu seorang biarawati Katolik Roma yang mendirikan sebuah ordo yang disebut The Missionaries of Charity di Kalkuta, India. Dunia mengingat dia sebagai seorang pembela bagi miskin dan sebagai pemenang hadiah Nobel perdamaian tahun 1979.
Tapi biasanya yang diingat hanyalah sebagian dari kisahnya.
Pada agustus 2007, sekitar sepuluh tahun setelah kematiannya pada 5 September 1997-sebuah buku berjudul Mother Teresa: Come be my Light, muncul di rak-rak toko buku, menimbulkan sebuah sensasi. Buku tersebut menciptakan suatu kegemparan sehingga majalah Time memuat sebuah artikel yang panjang menggambarkan baik buku tersebut maupun reaksi publik berhadapnya, berjudul " Krisis Iman Ibu Teresa"
Teresa tidak pernah ingin siapapun membaca surat-suratnya; Ia meminta agar mereka di musnahkan saat ia meninggal. Tetapi gerejanys menolak dia, dan buku tersebut menyingkapkan seorang wanita beriman yang selama hampir lima puluh tahun bergumul untuk merasa kehadiran Allah. Surat-suratnya kerap kali mengacu pada kekeringan, kegelapan dab bahkan kehidupan tersiksanya. Ada sebuah catatan yang ditujukan kepada Yesus:
Tuhan Allahku, siapa aku sehingga Engkau harus meninggalkan aku? Anak yang Engkau kasihi dan sekarang menjadi orang yang paling dibenci, orang yang telah Engkau buang sebagai sesuatu yang tak diinginkan, tak dikasihi. Aku memanggil, aku melakat, aku ingun dan tidak ada Seorangpun yang padaNya aku dapat berpegang, tidak ada. Tidak ada seorangpun, sendirian. Dimana imanku? Bahkan di kedalaman sana tak ada apapun, selain kehampaan dan kegelapan. Allahku betapa menyakitkannya penderitaan yang tidak diketahui ini. Aku tidak memiliki iman. Aku tidak berani mengucapkan kata-kata dan pemikiran-pemikiran yang memenuhi hatiku dan membuatku sangat menderita tak terkatakan.
Begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab hidup didalam diriku dan aku takut untuk menyatakan mereka karena takut menghujat jika memang ada penghujatan. Tuhan tolong ampuni aku. Ketika aku mencoba untuk mengangkat pemikiran-pemikiranku kesurga, ada kehampaan yang begitu menyiksa sehingga pemikiran-pemikiran itu kembali seperti pisauyang tajam dan melukai jiwaku. Aku di beritahu bahwa Allah mengasihiku, namun realita kegelapan, kedinginan dan kehampaan begitu besarnya sehingga tidak ada apapun yang menyentuh jiwaku.
Teresa yang kedua berasal dari Avila. Teresa inipun membagikan keputusasaannya ketika ia terjatuh dari keledai yang ditungganginya. Ia berkata pada Allah "Jika ini cara Engkau memperlakukan teman-teman-Mu. Tidak heran Engkau hanya memiliki sedikit"
Dalam buku tulisannya Interior Castle. Ditulisnya dengan segala kerendahan hati yang tanpa dibuat-buat saat ia di minta untuk menulis tentang saat teduh dan doa: beberapa tugas yang telah di perintahkan kepada saya untuk di laksanakan dengan taat telah begitu sulitnya karena satu tulisan saat ini ada hubungannya dengan doa: untuk satu alasan, karena saya tidak merasa bahwa Tuhan telah memberikan saya kerohanian ataupun keinginan yang kuat untuk itu, satu satunya alasan mereka mempercayai saya dengan hal itu bisa kadi karena memiliki sedikit pengertoan seperti yang saya miliki dalam hal ini.
Bagaimana anda meresponi Anda meresponi kehancuran dalam hidup anda sendiri? Apakah anda menemukan diri anda berada di persimpangan jalan? Titik balik? Mungkin inilah waktunya anda membuat sebuah pilihan, sebuah deklarasi, bahwa Allah adalah Allah, Tuhan anda dan tidak ada kembali ke masalalu bagi anda. Ruth membuat pilihan ini dalam momen tergelap hidupnya. Saya pikir keputusan-keputusan rohani yang mengubah hidup yang paling mendalam hampir selalu dibuat dalam kegelapan.
Bagaimana Mother Teresa dan Ruth begitu terkenang? Karena mereka melakukan pilihan yang tepat pada Allah dalam kegelapan.

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau?
Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.
Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung
Batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
Mazmur 73:25-26

Thursday, September 1, 2016

Review Buku: Be Still My Soul (Elisabeth Elliot)

Judul buku: Be still my soul
Penulis: Elisabeth Elliot
Penerbit: Revell, devisi dari Baker Publishing Group, U.S.A
Tahun terbit: 2003
Jumlah halaman: 152

Hari ini memang niat saya adalah untuk beristirahat, apalagi semalam memang tidur yang kurang berkualitas. Jadi saya putuskan untuk mengambil hari libur saya, untuk beristirahat, menulis dan membaca buku. Pagi ini saya tertarik sekali, lagi-lagi dengan tulisan Elisabeth Elliot ini. Buku penulis kitab NIV ini memang selalu bisa membuat saya meneteskan air mata. Beliau bukan hanya menuliskan tentang suatu teori saya, tapi bagaiana beliau menceritakan tentang kehidupannya. Kereeneenlah bukunyaaaaa.......
Judul buku ini Elisabeth Elliot terinspirasi oleh salah satu hymn favoritenya, yang tertulis bagian belakang buku.

Be still my soul: the Lord is on thy side.
Bear patiently the cross of grief or pain
Leave to thy God to order and provide:
In every change, He faithful will remain
Be still my soul: thy best, thy heavenly Friend
Through thorny ways leads to a joyful end.


Buku ini terdiri dari 10 bagian, yaitu:
Introduction Christ-Bearers
1. Do we know what we're in for?
2. Acceptance and peace
3. All things are yours
4. Material evidence
5. helps to holiness
6. Walking With Jesus
7. A servant heart 
8. Helps in prayer 
9. Long-suffering love 
10. The hope of glory

Dari bagian awalnya introduction, Beliau membagikan tentang bagaimana Yesus Kristus itu ada dan dilahirkan melalui perawan maria, hati maria yang tulus yang mengijinkan Allah untuk berkarya dalam hidupnya, namun lebih dari hanya melahirkan dan menyusui saja, seluruh kehidupan maria dia korbankan seluruhnya. Dia yang yang maha kuasapun rela menyerahkan seluruh kejayaannya untuk rela menjadi anak kecil yang lemah tak berdaya, dan harus di ajar berjalan, dan lain-lain. Dia merelakan segalanya, begitu pula dengan maria dia menyerahkan hidupnya dalam rencana Allah. Baiklah saya akan mencoba menuliskan apa yang saya dapat di dua bab awal.

1. Do we know what we're in for?
 Disini elisabeth menjelaskan tentang, berapa harga yang harus di bayar untuk mengikuti Yesus. Yesus berkata pikulah salibmu dan ikutlah aku, ketika Yesus mengajak petrus, ketika ada pemuda kayaraya yang berkata harus apa lagi yang dia lakukan, But Jesus said " carry your cross and come with me. I alone can make you a disciple." So long as we see ourselves is competent we do not qualify.
Tidak ada jalan untuk berbalik arah ketika kita menyerahkan hidup kita pada Allah, disini elisabeth membagikan dengan renyahnya ketika ia menjadi misionaris dan berada didalam hutan hingga kosa kata bahasanya berkurang, dia berkata
During my first year in the jungle, before I married Jim, I lost my informant as well as all my language materials it was as though God said to me, " what did you expect? You gave everything to me when you were 12 years old. when you were young woman, you told me that you would go anywhere that I wanted you go. You prayed work your whole will in my life at any cost.' And so when your informant is killed and Jim's station is demolished in a flood and you lose your language materials, is that your business? It's mine. I can do what I want with what you have given to me."
Tentang kebahagiaan elisabeth menuliskan kalimat yang cantik di halaman 20-21
The process of being stripped does not feel good. But the joy we taste is not incompatible with the sorrow. I remember waking up in morning in my house in Sandia after Jim had been killed.  the bed was empty beside me. Suddenly, in the place of fresh tears of sorrow, I was surprised by a sudden, unexpected surge of joyful exultation, realizing where Jim was at that very moment. He would never have to suffer again. He would never have to undergo the degradation and humiliation of old age. I would never have to spend days and nights in that dreadful fear of not knowing if he was safe. He was now with the Lord. Even with thw reality of my widowhood and my daughter's fatherlessness and the house and station that I had to run all by myself-there was joy! Psalm 116:17: I will offer the sacrifice of thanksgiving."
I will offer Him both my tears and my exaltation. Nothing we offer to Him will be lost. It is the person who tries to save him-or herself who loses it all. Jesus gave His word "Whoever loses his life for my sake will find it" (Matthew 10:39)


2. Accepted and peace
Disini di Elisabeth menggambarkan seperti seorang june yang menemuinya karena suaminya yang bermasalah. June meminta pendapat kepada Elisabeth Elliot, saat itu Elisabeth hanya memberikan nasehat agar june berterimakasih atas suaminya, June marah karena June tidak dapat menerima suaminya dengan keadaan suaminya. Karena cinta itu sejatinya adalah memberi, jadi jika June mencintainya makya June sudah seharusnya bersyukur akan keadaan suaminya.
Belajar untuk menerima dengan kedua tangan apa yang Allah berikan, bahwa it terbaik untuk jiwa kita. Apakah kita benar-benar mempercayaiNya. 
He will keep as neither slumbers nor sleeps. His love is always awake, always aware, always surrounding and upholding and protecting. if a spear or a bullet find its target in the flesh of one of His servant, it is not because of intention on his part. It is because of love.
Di bagian selanjutnya Elisabeth menuliskan tentang seorang wanita digerejanya yang tidak dapat menerima kehilangannya dengan kedua tangannya. Dia tidak dapat menerima kehilangan suaminya yang mengakibatkan ia menjadi seorang janda, yang pada saat itu Elisabeth juga mengalami hal yang sama dia baru saja menjadi janda. Hingga suatu waktu Elisabeth duduk makan di sebelahnya, dan wanita itu sedang memakan pie, sesaat sebentar wanita itu pergi dan meninggalkan secuil pie di piringnya, pada saat itu ada seorang pelayan meja yang membersihkan piringnya, sesaat setelah wanita itu kembali. Wanita itu marah-marah dan bertanya siapa yang tela mengambil pienya? Sang pelayan terkejut dan menawarkan untuk membawakna pie yang baru. Namun wanita itu bersi keras meminta pie miliknya yang masih bersisa 2 gigitan lagi.
Begitulah ketika kita kehilangan, kita menginginkan apa yang menjadi milik kita. Kita menjadi bodoh karena apa yang kita inginkan tidak terpenuhi. Kita beranggapan hanya kita yang memiliki masalah hidup yang terbesar kedunia dan kita tidak memperhatikan yang lain. Kita menjadi fokus terhadap diri sendiri.
Pilihlah senjata kita:
* Pilih yang menjadi sikap kita : 2 Corinthians 12 :10 says that "Karena Kristus aku bermegah dalam kelemahanku, dalam kesukaran, dalam penderitaan dan kesesakan" itu tidak datang dengan sendirinya. Namun kita dapat memiih untuk bermegah dalam kelemahan kita "karena ketika kita lemah kita kuat"
This is one of the Magnificent paradox of the cross you bring the cross your weakness and you receive God's strength. You bring him your sins and you receive your righteousness you bring him your sorrows and you receive His joy.
*Pilihlah untuk menyerahkan kesakitanmu pada Allah: sebelum kita menangis pada orang, menangislah pada Allah 
*Pilihlah untuk menerima dengan kedua tangan kita: terimalah hal-hal yang tidak dapat kita ubah
*Pilihlah untuk memperbaharui komitmen kita pada-Nya. Ketika aku takut, aku ini percaya kepadaMu. Psalm 56:3-4. Dalam satu ayat kita membaca dua emosi disana. Dalam emosi kita yang tidak jelas kita dapat memilih Dia kembali.
*Pilihlah untuk Memuji Dia: seperti yang di katakan habakuk: sekalipun pohon zaitun mengecewakan, sekalipun pohon ara tidak berbuah, domba terhalau dari kurungan, namun habakuk tetap memuji Dia.
*Pilihlah untuk mengerjakan sesuatu yang lain: itu yang merupakan salah satu Motto hidup Elisabeth Elliot.
There is nothing magical about any of this. The Lord has assigned you your portion and your cup; it is designated, measured precisely.  Are you upset because you have been hindered from doing what you wanted to do, or perhaps what you thought God wanted you to do? Jesus Christ provides the way out of the labyrinth of the world into the freedom of the new creation. You will keep the same talents, the same circumstances, the same health,  the same family the same property, the same daily demands. But as someone has said,"A door has opened, and the crossing over to Christ has been made possible by acceptance." In Acceptance Lieth Peace.

3. All things are Yours
Disini Elisabeth Elliot banyak membagikan tentang kedaulatan Allah atas hidup kita. Dia menjelaskan bahwa segala sesuatu ada didalam Dia. Yang menarik bagi saya, tulisannya yang berbunyi. 
Jika Engkau Allah, mengapa engkau meminta seorang pria baik-baik untuk menghabiskan beberapa tahun untuk membangun kapal di tengah-tengah tanah yang kering, dan membuatnya menjadi bahan cemoohan para tetangganya? Mengapa Engkau menciptakan Goliath? Mengapa Engkau, tanpa menentramkan hatinya bahwa dirinya tidak mungkin dirugikan, Engkau mengijinkan Daniel di lemparkan kedalam lubangyang penuh dengan singa yang lapar? Meskun dengan alasan yang baik, ini sangat sulit untuk tetap bertahan dalam rancangan yang benar.
Meskipun ujian dan cobaan kita berbeda, namun kita memiliki kesulitan yang sama. Rancangan Allah dalam hidup kita termasuk semua penderitaan, seluruh keturunan kita, setiap detail lingkungan kita, setiap keputusan yang kita buat, keputusan dari orang lain, tepatnya seluruhnya. 
Pemikiran kita sangat terbatas. Kita melupakan bahwa kasih Allah bukan saja ditunjukkan dengan menjaga kita dari penderitaan kita. Kasihnya tidak membenci tragedi, dan tidak juga menolak realiti. Kasihnya akan tetap berdiri teguh dalam penderitaan. Kasih Allah tidak melindungi Anaknya yang tunggal untuk mati di atas kayu salib. KasihNya tetap bertahan, meskipun "Berlaksa-laksa Malaikat" dapat menolongnya. Dia juga tidak penting bagiNya untuk melindungi kita dari apapun yang akan membuat seperti Yesus. Jika tempaan dan pahatan dan kemurnian dari api yang akan memproses kita. Hadapi itu semua, kita harus belajar mempercayainya dalam tiap hal-hal terkecil.

She writes with clarity and elegance.....

Thursday, August 11, 2016

Review Buku : Lady in Waiting


Sore tadi baru saja mengambil buku yang saya pinjamkan keteman wanita saya. (Gk rela lama-lama dipinjam tapi tak dibaca) akhirnya berhasil saya bawa pulang buku saya. Haha...awal saya tau ini buku, buku bagus dari covernya. Covernya wanita banget, dan saya suka sekali. Akhirnya saya belilah buku itu, dengan uang seadanya waktu mahasiswa cukup juga uang saya waktu itu untuk sering membeli buku. Ternyata waktu saya baca isinya keren bangetttt.... 
Setelah saya bekerja saya melihat buku lady in waiting study guide, kemudian langsung saya beli deh buku ini, jadilah saya punya dua buku yang cantik ini. Berikut hasil Review buku saya:

Judul asli: Lady in Waiting, Study Guide
Penulis: Jackie Kendall & Debby Jones
Penerbit Pertama: Destiny Image Publisers, USA
Tahun terbit pertama: 2005
Penterjemah: Denny Pranolo
Penerbit Indonesia: Prionir Jaya
Cetakan ke-2: Mei 2012
Jumlah halaman: 98
Bentuk sampul: Soft Cover

Judul asli: Lady in Waiting
Judul terjemahan: Lady in Waiting (Wanita Dalam Penantian)
Penerbit pertama: Destiny Images Publisher, USA
Tahun terbit pertama: 2005
Penterjemah: Natania Tiendas
Penerbit Indonesia: Prionir Jaya
Cetakan ke-8: 2009
Jumlah halaman: 178
Bentuk sampul: Soft Cover

Bentuk penulisan Lady in waiting study guide ini hanya banyak berisi tentang mengisi dan mempelajari Alkitab kita sendiri, sehingga di buku Lady in waiting study guide ini kita di tuntut untuk aktif dalam menjawab setiap pertanyaan yang telah di sediakan.
Kedua buku ini dibagi menjadi 10 bab dengan tema berbeda-beda, namun jika ingin meloncati beberapa bagian dari buku ini sangat disayangkan. Bab-bab di buku ini:
1. Wanita dengan penyerahan tanpa ragu
2. Wanita yang rajin
3. Wanita yang beriman
4. Wanita yang penuh kebajikan
5. Wanita yang penuh pengabdian
6. Wanita yang murni
7. Wanita yang memiliki rasa aman
8. Wanita yang puas
9. Wanita yang penuh keyakinan
10. Wanita yang sabar
Buku karangan Jackie Kendall dan Debbie Jones ini banyak membagikan kisah-kisah wanita dalam penantian, menanti pasangan hidupnya. Beberapa tokoh alkitab dalam penantian seperti itu adalah Ruth dan Ribka. Banyak hal yang dibagikan di buku ini tentang mereka berdua. Dimana mereka berdua tidak memilih untuk bersedih dalam masa penantian mereka. Mereka tidak melakukan pesta mengasihani dari setiap harinya, melainkan mereka berdua sibuk untuk melayani Allah dalam iman mereka.
Ruth yang dulunya adalah bukan keturunan orang israel namun karena imannya pada Allah israel yang dengan lantang ia katakan Rut 1:16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; kesetiaannya kepada ibu mertua dan kepada Allah israel itu membuat Ruth terpilih menjadi wanita yang mendapatkan penghargaan dihadapan Allah israel.
Dalam masa penantian Ruth. Ruth setiap hari rajin bekerja diladang untuk memungut jelai. Ruth yang dulunya suaminya mati dan sepertinya tidak ada harapan bagi Ruth untuk hidup, namun Ruth meletakkan kepercayaannya kepada Allah israel. Ruth tidak mengasihani diri, melainkan bekerja dengan rajin, hingga Ruth bertemu dengan Boas. Seorang pria yang layak untuk di nantikan.
Begitu pula dengan Ribka, dia bukan seorang wanita pemalas yang hanya berpangku tangan, melainkan ia bekerja dengan rajin dan bersukacita untuk menimba air. Hingga sampai suatu saat bertemu dengan orang suruhan abraham untuk mencarikan calon istri untuk ishak anaknya. 
Buku terbitan Prionir jaya ini juga membagikan tentang wanita muda yang memecahkan alabaster jar atau kotak batu pualam putih dan mengurapin kaki Yesus, padahal kotak batu itu digunakan para wanita untuk mengurapi calon pengantin prianya ketika berkunjung kerumah. Namun wanita itu memilih untuk mempercayakan hidup pernikahannya kepada Yesus tanpa ragu. Banyak orang akan berkata seperti orang bodoh. Namun itulah yang digunakan wanita-wanita Allah untuk menentang zaman dan menyerahkan hidupnya pada Sang pengantin surgawi.
Buku ini juga ada versi study guide yang bisa kita isi untuk kita belajar Alkitab sendiri. Untuk daftar isinya sama, jadi saya menggunakannya dengan cara saya membaca satu bab di buku bacaannya kemudian saya mengerjakan yang di study guidenya. Sangat menolong saya untuk belajar firman Tuhanlah.
Ngomong-ngomong kembali lagi buku ini beberapa mengutip tulisan dari buku karangan penulis idola saya Elisabeth Elliot. Beberapa buku Elisabeth Elliot yang dipakai adalah loneliness, chance to die, dan passion and purity. Heheee... pantesan bagus

#LadyInWaiting #WanitaDalamPenantian #Jackie Kendall #Debbie Jones

Sunday, July 31, 2016

Review Buku: Kuasa Doa Seorang Istri

Saya dapat buku ini ketika saya main kerumah kakak saya yang ada di semarang. Waktu itu saya masih memiliki pacar (sekarang single red), kemudian kakak pembimbing saya memberikan nasehat dan buku cantik ini. Saya senang sekali, karena saya tau dia book lover juga, jadi buku yang dia tawarkan pasti berkualitas. Awalnya saya tidak niat membacanya, karena saya belum berstatus istri, hehehe, tapi setelah saya membaca buku ini benar-benar menolong saya. Saat itu memang sedang ada masalah saya dengan pacar saya, meskipun akhirnya putusan, namun saya sudah banyak belajar lewat buku ini.
Judul buku: Kuasa Doa Seorang Istri
Penulis: Stormie Omartian
Alih bahasa: Magdalena Lumbantoruan, S.S.
Penerbit: Gospel Press
Cetakan tahun: 2011
Jumlah halaman: 256
Bentuk cover: Hard Cover

Daftar isi:
Ucapan Terima Kasih
Kata pengantar
Bab 1 Istrinya
Bab 2 Pekerjaannya
Bab 3 Keuangannya
Bab 4 Seksualitasnya
Bab 5 Kasih Sayangnya
Bab 6 Pencobaannya
Bab 7 Pikirannya
Bab 8 Ketakutannya
Bab 9 Tujuannya
Bab 10 Pilihannya
Bab 11 Kesehatannya
Bab 12 Perlindungannya
Bab 13 Ujiannya
Bab 14 Integritasnya
Bab 15 Reputasinya
Bab 16 Prioritasnya
Bab 17 Pergaulannya
Bab 18 Perannya sebagai Ayah
Bab 19 Masa Lalunya
Bab 20 Sikapnya
Bab 21 Hidup Pernikahannya
Bab 22 Emosinya
Bab 23 Jalan hidupnya
Bab 24 Bicaranya
Bab 25 Pertobatannya
Bab 26 Pembebasannya
Bab 27 Ketaatannya
Bab 28 Citra dirinya
Bab 29 Imannya
Bab 30 Masa Depannya

Buku ini dikarang oleh Stormie Omartian. Beliau membagikan bagaimana sebuah doa itu dapat mengubah segalanya, meskipun doa itu tidak terlihat, namun doa itu dapat merubah segalanya. Beberapa kali saya menangis membacanya, jadi untuk saya yang dulu masih berstatus pacar saja itu sangat berguna bagi saya untuk membangun dan mengubah saya. Apalagi dengan teman-teman yang sudah memiliki suami.

Banyak hal yang saya dapat dari buku ini. Salah satunya adalah ketaatan istri terhadap suaminya. Dimana ketaatan seorang istri mencerminkan ketaatan dia kepada Allah. salah satu bagian yang menarik adalah disaat Stormie Omartian berdoa kepada Allah dan meminta Allah mengubahkan suaminya yang tempramental saat itu. Namun saat itu Allah justru bertanya kepadanya "Siapa yang mau Aku ubah?" awalnya Stormi bersi kekeh agar suaminya diubah, sampai Allah bertanya kembali "Siapa yang mau Aku ubah" dan akhirnya Stormi menjawab bahwa dia yang harus diubahkan terlebih dulu. Ketaatan dia dalam berdoa ternyata bukan mengubah suaminya terlebih dulu, namun mengubah dia terlebih dulu.

Dia membagikan bahwa didalam hatinya ada bagian yang tidak dapat dipenuhi suaminya yang terbatas, namun hanya Allah yang tak terbatas itu yang hanya dapat memenuhi ruang hatinya. Ketika suaminya berbuat kasar, dia memilih untuk tidak membalas. Dia menempatkan hatinya pada kekasih surgawinya. Dia tau bahwa suaminya bukan seorang superhero atau seorang yang hebat yang dapat memenuhi semua hasratnya, namun kembali ia meletakkan hatinya pada Juruselamatnya.

Banyak bagian dibuku ini di bagikan, dari sisi mana saja kita dapat mendoakan suami kita (future husband for me now) bagian tersebut meliputi: kepemimpinannya, pekerjaannya, hatinya, kebijaksanaannya, fokus hidupnya dan banyak bidang lagi.

Terimakasih Mbak Kartin telah merekomendasikan buku ini.
Akan selalu kukenang

__________________________________________________________________________________________

Siapa, saya? .... Berubah?
Jangan bilang saya belum mengingat anda. Ketika Anda berdoa bagi suami Anda, terutama bila Anda berharap mengubahnya, Anda tentu mengharapkan beberapa perubahan. Tetapi perubahan-perubahan yang terjadi bukan pada dia, tetapi pada anda. Jika hal itu kemudian membuat anda marah seperti saya, anda akan berkata. "Tunggu dahulu! Di sini bukan saya yang perlu diubah!" Tetapi Tuhan melihat hal-hal yang tidak dapat kita lihat.
Tuhan tahu bahwa kita masih dapat diperbaiki. Tuhan tidak perlu lama mencari-cari sikap dan sifat-sifat kita yang tidak sejalan dengan kehendak-Nya yang sempurna bagi kita. Dia meminta agar kita jangan berdosa dalam hati, karena dosa memisahkan kita dari Dia dan itu menyebabkan doa-doa kita tidak terjawab. "Seandainys ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar" (mazmur 66:8). Tuhan ingin hati kita benar supaya jawaban atas doa-doa kita tidak di kompromikan.
Persyaratan ini semua akan terasa sangat berat, terutama jika suami anda telah berdosa terhadap anda dengan sikapnya yang kurang ramah, tidak menghargai, tidak peduli, tida bertanggung jawab, tidak setia, meninggakan anda, kejam atau suka menganiaya. Tetapi Tuhan menganggap dosa-dosa tidak mau mengampuni kemarahan, kebencian, mengasihani diri sendiri, tidak mengasihi dan balas dendam sama burukny dengan dosa-dosa lain. Akuilah semua itu dan mohonlah agar Tuhan membebaskan anda dari apapun yang bukan dari Dia. Salah satu hadiah terbesar yang dapat anda berikan kepada suami anda adalah keutuhan diri anda sendiri. Alat yang paling efektif untuk mengubah dirinya mungkin adalah perubahan yang terjadi dalam diri anda sendiri.
Jangan khawatir, saya juga bergumul dengan semua itu. Sebenarnya, setiap kali suami saya dan saya berselisih, Tuhan dan saya mengadakan percakapan sebagai berikut:
Saya: Apakah Engkau lihat bagaimana dia, Tuhan?
Tuhan: Apakah kamu melihat bagaimana kamu sendiri?
Saya: Tuhan, apakah Engkau bilang ada hal-hal yang perlu diubah dalam diri saya?
Tuhan: Banyak hal, siapkah kamu mendengarnya?
Saya: iya, saya kira saya siap
Tuhan: Katakan jika kamu sudah benar-benar siap.
Saya: Kenapa saya Tuhan? Dialah yang perlu diubahkan.
Tuhan: Masalahnya bukan siapa yang perlu diubahkan. Yang penting siapa yang mau berubah?
Saya: Tetapi saya........
Tuhan: Seseorang harus rela untuk memulai
Saya: Tetapi....
Tuhan: Seberapa pentingkah penyelamatan pernikahanmu?
Saya: Sangat penting. Piihan-pilihan lain tidak dapat saya terima
Tuhan: Tutup dulu kisah ini. Mari kita lanjutkan dengan mengubah kamu.
Saya: Tolong saya bersikap yang baik tentang hal ini, Tuhan
Tuhan: Itu terserah kepada dirimu.
Saya: Apakah saya harus berdoa buat suami meskipun dia tidak berdoa buat saya?
Tuhan: Persis seperti itu.
Saya: Tetapi itu tidak --baiklah, saya ingat. Hidup itu tidak adil hanya Engkaulah yang adil
(Anggukan lembut dari surga)
Tuhan: Teruskanlah, meski ini sangat menyakitkan!
Saya: Ubah...ubah Saya tidak percaya saya bisa mengatakan ini. (Napas panjang) Ubahkan saya Tuhan
Pedih? Ya! Mematikan diri sendiri selalu terasa pedih. Terutama bila anda yakin bahwa suami anda yakin bahwa suami anda yang perlu diubahkan dari pada anda.


#KuasaDoaSeorangIstri #StormieOmartian

Thursday, March 17, 2016

Review Buku: A Sacred Sorrow

Awalnya melihat Buku Ini di salah satu toko buku online. Waktu saya melihat judul dan review tentang buku ini, akhirnya saya tertarik. tanpa berpikir panjang (maklum kalap kalau lihat buku) langsung saya beli deh ni buku. Selang beberapa hari kemudian datang deh ini buku.

Judul asli: A Sacred Sorrow
Penerbit Pertama: Navpress, Colorado spring-U.S.A
Judul terjemahan: Duka Sakral oleh Michael Card, Menjangkau Allah dengan Bahasa Ratapan yang Terhilang.
Alih bahasa: Nathania Tiendas
Penerbit Indonesia: Pionir Jaya
Cetakan ke-1: Maret 2009
Jumlah halaman: 219
Bentuk cover: Soft Cover
Jenis kertas: Setengah Hvs

Buku ini terdiri dari 6 bagian, yaitu:

  1. Sebuah ratapan kuno
  2. Ayub
  3. Daud
  4. Yeremia
  5. Yesus
  6. Kesimpulan

Awal saya membaca buku ini, hummmmm rada susah juga mencerna nih otak, haha..., entah karena ketinggian bahasanya atau saya yang emang gak mudengan yah,,, haha, namun setelah saya menghayati benar-benar buku ini, aduh haiiii, bercucuran terus air mata saya...
Buku ini diawali pendahuluan oleh Eugene Peterson, dan setau saya Eugene Peterson adalah seorang penulis alkitab versi the messages yang kitab ini sering saya nikmati versi onlinenya.
Buku ini menceritakan beberapa pergumuluan tokoh-tokoh alkitab seperti pada pembagian setiap bab atau bagiannya, yaitu Ayub, Daud, Yesaya dan Yesus. Kebetulan hari minggu-minggu itu saya belajar tentang ayub, saya sedang menikmati buku ini, dan saat saya di gereja pendeta saya juga membagikan ayub juga. Jadi pas bangetlah buku yang saya pegang ini.
Buku ini menceritakan perjalanan hidup seorang ayub dimana dia tetap bertahan dalam kesesakannya. Diceritakan dibagian awal, Ayub adalah seorang yag saleh dan suci jalan hidupnya, tidak ada kesalahanpun dalam hidupnya. Tapi mengapa ia mendapatkan hal yang buruk? Itu semua seijin Allah. Di buku ini saya menikmati bagaimana tentang Ayub.
Suatu saat ayub kehilangan harta bendanya. Ayub diceritakan juga seorang yang sangat dekat dengan keluarganya, dilihat dari bagaimana ia memperhatikan anak-anaknya berpesta, dan mempersembahkan korban setiap kali mereka selesai berpesta. Jadi Ayub ini intinya seorang yang baik dalam hidupnya. Perkataan Ayub ketika semua yang dimilikinya diambil dia berkata "Tuhan yang memberi Tuhan juga yang mengambil terpujilah nama Tuhan" di akhir cerita ayub tidak mendapatkan kembali anak-anaknya tapi ia mendapatkan Allah kembali".
Dibuku ini juga menceritakan tentang Daud, Daud Juga mengalami Hal yang sama. Namun satu hal yang masih saya ingat di buku ini di ceritakan adalah Daud adalah seorang yang tidak menyimpan dendam kepada Saul. Daud hanya menangis pada Allah, Daud hanya marah kepada Allah, namun ketika Allah membawa Saul kepada Daud, Daud justru mengampuninya dan menyerahkan Saul pada Allah. Hingga Allah yang melakukan pembalasan pada Saul. Daud bergaul karib dengan Allahnya. Wow banget dah pas baca kisah Daud ini.... :D
Untuk Selanjutnya Yesaya itu berada ditengah-tengah antara bangsa israel dan Allah. Jadi cukup pusing juga jadi yesaya saya pikir. Karena Yesaya berada di tengah-tengah orang-orang yang tidak mau mengenal Allah. Yesaya pun berkeluh kesah kepada Allah dalam hidupnya.
Kemudian Yesus adalah satu contoh ketaatan yang paling sempurna, yaitu taat sampai mati. Yesus juga pernah merasakan kesepian seperti kita. Yesus juga pernah mengalami ditinggal, di khianati seperti kita. Diatas kayu Salib Yesus merasa ditinggalkan Allahnya dan Ia berseru "Eli...Eli Lama saback tani" yang artinya "Allahku Allahku mengapa Engkau Meninggalkan aku".
Jadi buku ini sangat recomendedlah, salah satu cara untuk mendapatkan Dia kembali ditengah kehilanganku

#ASacredSorrow #Dukasakral #MichaelCard